JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat kedaulatan AI Indonesia melalui pengembangan talenta, riset, dan infrastruktur digital. Perguruan tinggi menjadi salah satu bagian penting dalam strategi tersebut.
Kampus tidak hanya diarahkan untuk mencetak pengguna kecerdasan buatan. Sebaliknya, mahasiswa dan peneliti didorong menjadi pengembang teknologi yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di Indonesia.
Strategi tersebut salah satunya dijalankan melalui AI Talent Factory atau AITF.
Program ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan industri. Dengan demikian, pengembangan talenta AI dapat lebih dekat dengan kebutuhan nasional.
Kedaulatan AI Indonesia Dimulai dari Talenta
Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu fondasi utama.
Pemerintah menilai Indonesia membutuhkan talenta yang tidak hanya mampu menggunakan AI. Mereka juga harus mampu membangun serta mengembangkan teknologi tersebut.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut infrastruktur digital dan talenta sebagai dua fondasi menuju kedaulatan AI.
Menurut Meutya, kemampuan komputasi yang kuat perlu tersedia di dalam negeri. Namun, kemampuan tersebut harus didukung oleh talenta yang unggul.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi strategis.
Kampus memiliki mahasiswa, peneliti, laboratorium, dan ekosistem akademik. Semua unsur tersebut dapat menjadi fondasi pengembangan teknologi nasional.
Pemerintah Jalankan AI Talent Factory
Salah satu strategi pemerintah adalah mengembangkan AI Talent Factory.
Program tersebut menggunakan pendekatan praktis.
Mahasiswa tingkat akhir dan pascasarjana mendapatkan kesempatan menyelesaikan kasus nyata dari industri. Mereka dapat mengembangkan model AI, sistem robotik, hingga solusi berbasis Internet of Things.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori.
Mereka juga menghadapi persoalan yang membutuhkan solusi nyata.
Selain itu, kolaborasi dengan industri membantu peserta memahami kebutuhan dunia kerja.
UB, ITS dan UGM Sudah Terlibat
Program AITF telah berkembang sejak dimulai pada 2025.
Pada tahap awal, program tersebut melatih 34 peserta. Mereka menghasilkan beberapa solusi, termasuk sistem pemetaan talenta digital dan perangkat untuk mendeteksi aktivitas judi online.
Kemudian, program diperluas pada 2026.
BPSDM Komdigi menggandeng Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Gadjah Mada.
Sebanyak 98 peserta terlibat dalam program tersebut.
Mereka menghasilkan berbagai inovasi AI untuk kepentingan publik.
Mahasiswa Kerjakan Masalah Nyata
Hasil pengembangan peserta AITF mencakup berbagai bidang.
Salah satunya adalah sistem untuk menangani disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian.
Selain itu, peserta mengembangkan solusi untuk Sekolah Rakyat.
Teknologi AI juga dikembangkan untuk membantu pemetaan kemiskinan dan meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sosial di Jawa Timur.
Program lain menyasar perlindungan anak di ruang digital.
Sementara itu, teknologi pemantauan media dikembangkan untuk membantu analisis informasi publik.
Artinya, AI diarahkan untuk menjawab persoalan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kampus Kembangkan AI Pendidikan Nusantara
Universitas Brawijaya juga terlibat dalam pengembangan Model AI Pendidikan Nusantara untuk Sekolah Rakyat.
Model tersebut dirancang sebagai sistem pembelajaran adaptif.
Selain itu, pengembangannya mempertimbangkan karakteristik budaya Indonesia.
Teknologi yang dibahas mencakup Large Language Model atau LLM, deep learning, dan Retrieval Augmented Generation atau RAG.
Mahasiswa turut terlibat dalam pengembangannya.
Proyek tersebut bahkan dirancang memiliki beban akademik setara 20 SKS.
Dengan demikian, pengembangan AI dapat terintegrasi dengan kegiatan pendidikan mahasiswa.
Kampus Didorong Jadi Motor Pengembangan AI
Pemerintah juga ingin memperkuat hubungan antara akademisi dan industri.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebelumnya menegaskan bahwa kampus dapat menjadi motor pengembangan talenta AI.
Namun, riset tidak boleh berhenti di laboratorium.
Hasil penelitian perlu dikembangkan menjadi solusi yang memberikan dampak kepada masyarakat dan industri.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara kampus, industri, dan lembaga negara.
Pendekatan tersebut diharapkan mempercepat hilirisasi hasil penelitian.
Indonesia Tak Ingin Hanya Jadi Pengguna AI
Strategi kedaulatan AI Indonesia juga memiliki tujuan yang lebih besar.
Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar teknologi asing.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa Indonesia perlu memiliki posisi strategis dalam rantai nilai industri AI global.
Menurutnya, pengembangan AI harus didukung kapasitas komputasi, riset, regulasi, dan talenta digital.
Kemampuan komputasi menjadi faktor penting.
Sebab, pengembangan model AI membutuhkan sumber daya komputasi dalam jumlah besar.
Karena itu, pembangunan talenta perlu berjalan bersama penguatan infrastruktur.
Pemerintah Gandeng JICA
Pengembangan talenta juga diperkuat melalui kerja sama internasional.
Pada Juni 2026, BPSDM Komdigi menggandeng Japan International Cooperation Agency atau JICA untuk mengembangkan Next-Gen AI Talent Factory.
Kerja sama tersebut dirancang berlangsung selama dua tahun, mulai Desember 2026 hingga November 2028.
JICA akan menghadirkan ahli AI untuk mendukung transfer teknologi dan peningkatan kapasitas.
Namun, tujuan akhirnya tetap membangun kemampuan Indonesia.
Program tersebut diharapkan melahirkan inovator yang mampu mengembangkan solusi AI secara mandiri.
Etika Tetap Menjadi Fondasi
Kemampuan teknis bukan satu-satunya kebutuhan.
Pemerintah juga menekankan pentingnya etika dan nilai manusia.
Kepala BPSDM Komdigi Boni Pudjianto menyebut AI seharusnya ditempatkan sebagai asisten atau co-pilot. Sementara itu, manusia tetap menjadi pengendali utama.
Pendekatan tersebut penting karena AI dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan pemrograman.
Mereka juga perlu memahami keamanan, etika, privasi, dan dampak sosial teknologi.
Data dan Infrastruktur Jadi Bagian Strategi
Kedaulatan AI tidak dapat dibangun hanya melalui pendidikan.
Indonesia juga membutuhkan pusat data dan kapasitas komputasi.
Selain itu, ketersediaan data berkualitas menjadi bagian penting dalam pengembangan model AI nasional.
Pemerintah menilai kedaulatan AI berkaitan dengan kemampuan menentukan teknologi yang digunakan, menjaga keamanan data, serta memastikan pemanfaatannya tetap inklusif dan etis.
Dengan demikian, strategi nasional membutuhkan beberapa fondasi sekaligus.
Talenta, riset, data, infrastruktur, industri, dan regulasi harus berkembang bersama.
Menuju Ekosistem AI Nasional
Pengembangan kedaulatan AI Indonesia menjadi agenda jangka panjang.
Kampus memiliki peran besar karena menjadi tempat lahirnya talenta dan penelitian baru. Namun, pemerintah juga membutuhkan keterlibatan industri dan komunitas teknologi.
Kolaborasi tersebut mulai terlihat melalui AI Talent Factory.
Mahasiswa mendapatkan pengalaman mengerjakan masalah nyata. Sementara itu, pemerintah memperoleh lebih banyak sumber daya manusia yang memahami pengembangan AI.
Pada akhirnya, strategi tersebut diarahkan agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.
Indonesia ingin memiliki kemampuan untuk mengembangkan, mengelola, dan memanfaatkan AI sesuai kepentingan nasional.