Pemerintah menetapkan asumsi rupiah Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027. Angka tersebut menjadi salah satu dasar penyusunan anggaran negara tahun depan. Namun, target rupiah Rp17.500 per dolar AS mulai mendapat perhatian ekonom karena nilai tukar akan dipengaruhi kondisi global dan kebijakan ekonomi dalam negeri.
RAPBN 2027 Pasang Asumsi Rupiah Rp17.500
Pemerintah menggunakan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS sebagai salah satu asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2027. Angka tersebut lebih lemah dibandingkan asumsi dalam APBN 2026 yang berada di level Rp16.500 per dolar AS.
Selain nilai tukar, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Inflasi dipatok 2,5 persen. Sementara itu, imbal hasil SBN 10 tahun ditetapkan sebesar 6,9 persen.
Ekonom Nilai Target Rupiah Masih Realistis
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai asumsi rupiah Rp17.500 per dolar AS masih cukup realistis. Namun, ia memperkirakan rata-rata rupiah pada 2027 bisa sedikit lebih lemah.
Josua memproyeksikan rata-rata rupiah sekitar Rp17.599 per dolar AS. Dengan demikian, terdapat selisih sekitar Rp99 dari asumsi RAPBN 2027. Menurutnya, penyimpangan tersebut masih relatif kecil.
Tekanan Rupiah Tidak Hanya Berasal dari Dolar
Pergerakan rupiah pada 2027 akan dipengaruhi banyak faktor. Kondisi pasar keuangan global, arus modal, kebutuhan dolar, hingga kebijakan moneter dapat menentukan arah nilai tukar.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menetapkan target rupiah Rp17.500 per dolar AS. Strategi menjaga pasokan devisa dan kepercayaan investor juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Harga Minyak Bisa Menjadi Risiko Besar
Ekonom juga menyoroti hubungan antara nilai tukar dan harga minyak. Dalam RAPBN 2027, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP sebesar US$75 per barel.
Risiko akan menjadi lebih besar jika rupiah melemah bersamaan dengan kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya impor energi. Selain itu, subsidi, kompensasi energi, dan kebutuhan anggaran pemerintah juga dapat ikut terdorong.
Pelemahan Rupiah Tidak Selalu Buruk bagi APBN
Rupiah yang melemah memang dapat meningkatkan sejumlah biaya pemerintah. Namun, kondisi tersebut tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap APBN.
Nilai penerimaan yang berkaitan dengan ekspor, pajak penghasilan migas, serta penerimaan negara bukan pajak sektor migas dapat meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Di sisi lain, pemerintah juga harus menghadapi kenaikan pembayaran bunga utang valuta asing dan belanja yang berkaitan dengan energi.
Investasi dan Impor Ikut Menentukan
Kebutuhan dolar dapat meningkat ketika aktivitas investasi dan impor tumbuh. Karena itu, kualitas investasi menjadi penting dalam menjaga stabilitas rupiah.
Ekonom menilai investasi sebaiknya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Hilirisasi, industri substitusi impor, serta investasi asing yang menghasilkan devisa dapat membantu memperkuat fundamental rupiah dalam jangka panjang.
Pemerintah Ingin Pertumbuhan Ekonomi Naik
Target rupiah Rp17.500 per dolar AS disusun bersamaan dengan target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027.
Pemerintah juga mengandalkan konsumsi rumah tangga dan investasi sebagai penggerak ekonomi. Kementerian Keuangan menyebut konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen besar dalam struktur perekonomian Indonesia.
Defisit RAPBN 2027 Tetap Dijaga
Selain target rupiah, pemerintah juga berusaha menjaga kesehatan fiskal. Defisit RAPBN 2027 ditetapkan sebesar 2,40 persen terhadap PDB. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target APBN 2026.
Belanja negara dalam RAPBN 2027 dirancang tetap mendukung agenda pembangunan. Pemerintah berharap belanja tersebut mampu memberikan efek pengganda bagi perekonomian tanpa membuat tekanan fiskal meningkat terlalu besar.
Strategi Menjaga Rupiah Mulai Jadi Sorotan
Target rupiah Rp17.500 per dolar AS pada akhirnya tidak hanya bergantung pada angka yang tercantum dalam RAPBN 2027. Pemerintah perlu menjaga arus devisa, memperkuat ekspor, dan mempertahankan kepercayaan pasar.
Di sisi lain, risiko eksternal juga perlu diperhitungkan. Pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan peningkatan biaya pembiayaan dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap APBN.
Dengan demikian, asumsi rupiah Rp17.500 per dolar AS masih dinilai cukup realistis. Namun, ekonom mengingatkan bahwa pemerintah perlu menyiapkan strategi apabila kondisi pasar bergerak lebih buruk dari perkiraan.