Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia tumbuh sekitar 3 persen pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi 3,3 persen yang dibuat IMF pada Januari 2026. Meski ekonomi global dinilai masih cukup tangguh menghadapi berbagai guncangan, IMF tetap melihat sejumlah risiko yang dapat menekan pertumbuhan hingga tahun depan.
Pertumbuhan Global Masih Bertahan di 3 Persen
Dalam pembaruan World Economic Outlook pada Juli 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027. IMF menyebut perekonomian dunia mengalami perlambatan akibat dampak perang dan gangguan energi, tetapi tekanan tersebut sebagian diimbangi oleh peningkatan investasi teknologi.
Proyeksi 2026 juga lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,5 persen pada 2024 dan 2025. Namun, IMF menilai kondisi ekonomi global sejauh ini lebih mampu bertahan dibandingkan perkiraan awal setelah munculnya guncangan energi.
Perang dan Energi Jadi Risiko Utama
Salah satu perhatian terbesar IMF adalah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Gangguan terhadap pasokan dan jalur perdagangan energi dapat kembali meningkatkan harga minyak dan gas, sekaligus mendorong inflasi di berbagai negara.
IMF juga menilai risiko tersebut belum sepenuhnya berakhir. Pada awal September, lembaga tersebut menyebut Selat Hormuz masih menghadapi gangguan, sementara kebutuhan untuk mengisi kembali cadangan energi dapat memberikan tekanan tambahan ketika memasuki musim dingin di belahan bumi utara.
Inflasi Belum Sepenuhnya Terkendali
Selain pertumbuhan, inflasi menjadi tantangan lain bagi perekonomian dunia. IMF memperkirakan inflasi global berada di level 4,7 persen pada 2026 dalam proyeksi Juli, setelah proses penurunan inflasi yang berlangsung sejak 2024 mengalami perlambatan.
Kondisi tersebut dapat membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga secara agresif. Jika harga energi kembali meningkat, tekanan terhadap inflasi berpotensi membuat kebijakan moneter tetap ketat lebih lama.
Ledakan Investasi AI Jadi Penopang
Di tengah berbagai risiko, perkembangan teknologi menjadi salah satu sumber kekuatan bagi ekonomi global. IMF mencatat investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI membantu mendorong aktivitas ekonomi, terutama di Amerika Serikat dan negara yang terhubung dengan rantai pasok teknologi.
Namun, IMF juga mengingatkan bahwa lonjakan investasi AI memiliki risiko tersendiri. Koreksi pasar akibat perubahan ekspektasi terhadap keuntungan perusahaan teknologi dapat menjadi salah satu risiko penurunan pertumbuhan global.
Utang Dunia Mencapai Tingkat Tinggi
Tekanan lain datang dari kondisi fiskal. IMF menyebut utang publik dunia kini mendekati 100 persen dari produk domestik bruto global dan diperkirakan masih meningkat.
Tingginya utang membuat sejumlah pemerintah memiliki ruang yang lebih terbatas untuk merespons guncangan baru. IMF karena itu mendorong negara-negara untuk memperkuat kembali ruang fiskal, menjaga stabilitas harga, dan menjalankan reformasi struktural agar pertumbuhan lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
IMF Masih Melihat Peluang Pemulihan
Meski risiko global tetap tinggi, IMF tidak melihat perekonomian dunia berada dalam kondisi tanpa harapan. Pertumbuhan diperkirakan kembali menguat menjadi 3,4 persen pada 2027 apabila tekanan perang dan energi mulai mereda.
Namun, pemulihan tersebut sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, harga energi, kondisi keuangan global, serta kemampuan negara menjaga stabilitas fiskal dan moneter. IMF dijadwalkan memperbarui proyeksi ekonomi global dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pada Oktober 2026.