JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan awal pekan di zona merah. Pada Senin (31/8/2026), rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup pada posisi Rp17.710 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sekitar 0,14 persen.
Meski demikian, rupiah berhasil memangkas tekanan menjelang penutupan. Kondisi tersebut terjadi setelah mata uang Garuda sempat melemah lebih dalam sepanjang perdagangan.
Rupiah Sempat Sentuh Rp17.755
Sepanjang perdagangan Senin, rupiah sempat menyentuh Rp17.755 per dolar AS. Setelah itu, rupiah berbalik menguat sekitar 45 poin dari posisi terlemahnya.
Namun, perbaikan tersebut belum mampu membawa rupiah kembali ke zona hijau. Rupiah masih berakhir sekitar 25 poin lebih lemah dibandingkan penutupan Jumat (28/8/2026) menurut data Refinitiv.
Di sisi lain, posisi penutupan tersebut lebih baik dibandingkan pembukaan. Pada awal perdagangan berdasarkan Refinitiv, rupiah berada di sekitar Rp17.725 per dolar AS.
Penguatan Dolar AS Beri Tekanan
Pergerakan rupiah pada awal pekan masih merasakan dampak penguatan dolar AS pada Jumat lalu. Saat itu, indeks dolar AS atau DXY melonjak sekitar 0,55 persen.
Penguatan dolar terjadi setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh membuka peluang kenaikan suku bunga. Langkah tersebut dapat ditempuh apabila inflasi tidak bergerak menuju target 2 persen.
Pernyataan tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS meningkat. Selain itu, suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.
Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi menghadapi tekanan.
Indeks Dolar Mulai Melemah
Menjelang sore, tekanan dari dolar AS mulai berkurang. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat turun sekitar 0,16 persen ke level 99,550.
Koreksi dolar tersebut membantu rupiah menjauh dari posisi terlemah hariannya. Namun, pergerakan itu belum cukup untuk membawa rupiah berakhir menguat.
Sementara itu, dolar AS sebelumnya mencatat kenaikan hampir 0,9 persen sepanjang pekan lalu. Kenaikan tersebut menjadi penguatan mingguan terbesar dalam sekitar 10 pekan.
Pasar Menanti Perkembangan Bank Indonesia
Selain faktor global, pelaku pasar juga mencermati perkembangan dari dalam negeri. Salah satunya berkaitan dengan agenda pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI).
Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026) dijadwalkan membahas penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI periode 2026–2031.
Selain itu, Aida S. Budiman akan ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI. Sementara itu, Solikin M. Juhro menjadi calon Deputi Gubernur BI.
Oleh karena itu, pasar akan memperhatikan arah kebijakan bank sentral selanjutnya. Stabilitas rupiah dan kesinambungan kebijakan moneter menjadi beberapa faktor yang mendapat perhatian.