Brent Sempat Menembus US$109,97 per Barel, Pasar Global Kembali Dibayangi Tekanan Inflasi

0 0
Read Time:2 Minute, 12 Second

Harga minyak mentah Brent kembali menjadi perhatian pasar global setelah sempat menyentuh US$109,97 per barel pada perdagangan 11 September 2026. Lonjakan harga energi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral.

Brent Capai Level Tertinggi Empat Bulan

Brent mencatat level intraday US$109,97 per barel sebelum akhirnya mengalami koreksi. Pada akhir perdagangan, harga Brent berada di sekitar US$104,61 per barel, tetapi masih mencatat kenaikan lebih dari 8 persen dalam sepekan.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak sekitar 6 persen dalam satu hari. Pergerakan tajam ini menunjukkan bahwa pasar energi masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan.

Konflik Timur Tengah Tekan Pasokan

Kenaikan harga minyak berkaitan erat dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap infrastruktur energi dan ketidakpastian jalur perdagangan membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan pasokan minyak global semakin terbatas.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia sehingga gangguan berkepanjangan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak.

Inflasi Kembali Jadi Kekhawatiran

Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, logistik, hingga kebutuhan rumah tangga. Karena itu, lonjakan Brent kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global dapat bertahan lebih lama.

Pasar juga mulai memperhitungkan dampaknya terhadap kebijakan moneter. Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve meningkat setelah data inflasi konsumen Agustus menunjukkan kenaikan 0,4 persen.

Imbal Hasil Obligasi Ikut Naik

Tekanan inflasi tidak hanya terlihat pada pasar minyak. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat mendekati 5 persen dan mencapai level tertinggi dalam sekitar tiga tahun.

Kenaikan imbal hasil dapat membuat aset berisiko seperti saham berada di bawah tekanan. Investor juga menjadi lebih berhati-hati karena biaya pinjaman berpotensi meningkat apabila bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Pasar Global Masih Menghadapi Ketidakpastian

Pergerakan Brent menunjukkan bahwa pasar global belum sepenuhnya lepas dari risiko geopolitik. Bahkan setelah turun dari US$109,97, harga minyak masih berada jauh di atas level awal September.

Bagi perekonomian dunia, perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada kondisi pasokan energi dan arah konflik di Timur Tengah. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga dapat semakin kuat.

Harga Minyak Jadi Perhatian Investor

Investor kini tidak hanya memantau harga minyak, tetapi juga data inflasi, imbal hasil obligasi, dan keputusan bank sentral. Kombinasi ketiga faktor tersebut dapat menentukan arah pasar keuangan dalam beberapa pekan ke depan.

Brent yang sempat menembus US$109,97 menjadi pengingat bahwa gejolak energi masih menjadi salah satu risiko utama bagi perekonomian global. Koreksi harga setelah menyentuh level tersebut belum menghilangkan kekhawatiran mengenai inflasi dan pasokan energi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %