Eropa berupaya memperkuat posisi dalam persaingan robotika global yang semakin ketat. Sejumlah robot berbasis kecerdasan artifisial dipamerkan dalam demonstrasi di Parlemen Eropa pada 2 September 2026 sebagai bagian dari upaya mendorong pengembangan teknologi robot pintar di kawasan tersebut.
Robot Pintar Dipamerkan di Brussels
Acara tersebut mempertemukan pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri untuk membahas masa depan robotika Eropa. Sebanyak 20 hingga 30 robot AI dijadwalkan melakukan demonstrasi untuk memperlihatkan kemampuan teknologi dalam berbagai kebutuhan masyarakat dan industri.
Demonstrasi itu digelar oleh euROBIN, jaringan penelitian robotika Eropa yang didukung program Horizon Europe. Organisasi tersebut mengembangkan ekosistem bersama agar robot dapat berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai tugas maupun lingkungan.
Eropa Ingin Memperkuat Posisi Global
Perkembangan robotika menjadi semakin strategis ketika Amerika Serikat dan China terus meningkatkan investasi pada AI serta robot humanoid. China bahkan berkembang sangat cepat dalam produksi robot humanoid dan pada 2025 disebut menguasai sekitar 95 persen pengiriman robot humanoid global.
Eropa memiliki kekuatan tersendiri dalam riset dan pengembangan. Namun, para peneliti menilai kawasan tersebut perlu mempercepat komersialisasi, meningkatkan pendanaan, dan memperluas kapasitas industri agar hasil penelitian tidak tertinggal dalam tahap penerapan.
Fokus pada Robot untuk Kebutuhan Nyata
Berbeda dari sejumlah demonstrasi robot humanoid yang menonjolkan kemampuan olahraga atau hiburan, pengembangan di Eropa lebih banyak diarahkan pada penggunaan praktis. Robot ditargetkan mampu membantu pekerjaan rumah tangga, aktivitas industri, serta berinteraksi dengan manusia secara lebih aman.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan konsep physical AI. Teknologi ini memungkinkan robot memahami lingkungan, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan secara langsung di dunia fisik.
Tantangan Pendanaan Masih Besar
Eropa masih menghadapi persoalan biaya pengembangan dan keterbatasan akses terhadap sumber daya komputasi. Tantangan tersebut dapat memperlambat proses mengubah hasil penelitian menjadi produk robotika yang mampu diproduksi dalam skala besar.
Karena itu, kerja sama lintas negara menjadi salah satu strategi penting. EuROBIN melibatkan 31 mitra dari 14 negara dan 26 kota di Eropa untuk membangun ekosistem penelitian yang lebih terintegrasi.
Robotika Berpotensi Menopang Industri
Pengembangan robot pintar juga dipandang memiliki manfaat ekonomi yang lebih luas. Robot dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja sekaligus meningkatkan produktivitas di sejumlah sektor.
Potensi tersebut membuat robotika tidak hanya dipandang sebagai proyek teknologi. Uni Eropa ingin menjadikannya bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri sekaligus memperkuat kedaulatan teknologi di tengah persaingan global.
Eropa Berusaha Mengejar Ketertinggalan
Demonstrasi di Parlemen Eropa menunjukkan bahwa kawasan tersebut tidak ingin hanya menjadi pengguna teknologi robotika yang dikembangkan negara lain. Eropa berupaya menggabungkan keunggulan riset, AI, dan robotika untuk membangun kemampuan industri sendiri.
Namun, persaingan dengan Amerika Serikat dan China masih panjang. Keberhasilan Eropa akan sangat bergantung pada kemampuan meningkatkan investasi, mempercepat penerapan teknologi, serta mengubah inovasi dari laboratorium menjadi produk yang digunakan secara luas.