TOBA — Harga andaliman di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Toba, Sumatera Utara, kembali mengalami kenaikan. Rempah khas Batak tersebut kini dijual kepada konsumen dengan harga sekitar Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Pergerakan harga terjadi cukup cepat menjelang akhir Agustus 2026. Sebelumnya, andaliman di Pasar Laguboti masih berada pada kisaran Rp60.000 per kilogram. Kemudian, harga naik menjadi Rp80.000 pada 24 Agustus dan mencapai Rp100.000 per kilogram pada 27 Agustus.
Kenaikan tersebut tidak hanya dipengaruhi kondisi pasokan. Pedagang juga harus memperhitungkan karakter andaliman yang mudah mengalami penyusutan dan penurunan kualitas selama disimpan.
Harga Andaliman Berbeda dari Petani hingga Konsumen
Pengepul andaliman di Kabupaten Toba, Raisa Hutagaol, menjelaskan bahwa dirinya membeli andaliman dari petani sekitar Rp45.000 per kilogram.
Selanjutnya, andaliman dijual kepada pedagang langganannya dengan harga sekitar Rp60.000 per kilogram.
Sementara itu, pedagang di Kecamatan Porsea dan Laguboti menjual komoditas tersebut kepada konsumen sekitar Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Dengan demikian, terdapat selisih harga yang cukup besar antara tingkat petani dan konsumen.
Namun, pedagang menyebut selisih tersebut tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai keuntungan bersih.
Ada risiko penyusutan hingga pembusukan yang harus diperhitungkan selama barang belum terjual.
Penyusutan Jadi Salah Satu Faktor
Pedagang di Pasar Porsea, Ria Manurung, menjelaskan bahwa harga Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram dinilai sesuai dengan risiko yang ditanggung pedagang.
Salah satu pertimbangannya adalah daya tahan andaliman segar.
Menurut Ria, andaliman dapat mempertahankan kondisi optimal sekitar satu pekan. Setelah melewati periode tersebut, kualitasnya mulai berkurang.
Perubahan dapat terlihat pada warna maupun aroma andaliman.
Kondisi itu berpengaruh terhadap minat konsumen. Andaliman yang telah mengalami penurunan kualitas menjadi lebih sulit dijual.
Akibatnya, pedagang berpotensi menanggung kerugian dari stok yang tidak habis.
Stok Andaliman Mulai Berkurang
Selain persoalan penyusutan, pasokan juga memengaruhi harga andaliman di Toba.
Pedagang di Pasar Laguboti sebelumnya menyebut tanaman andaliman mulai memasuki musim sambang atau trek. Kondisi tersebut menyebabkan hasil panen dari petani berkurang.
Pada saat bersamaan, permintaan pasar mulai meningkat.
Kombinasi antara pasokan yang menurun dan permintaan yang bertambah kemudian mendorong harga bergerak naik.
Kondisi ini terlihat dari perubahan harga dalam waktu singkat.
Pada 24 Agustus, harga andaliman di Laguboti tercatat sekitar Rp80.000 per kilogram. Tiga hari kemudian, harga sudah mencapai Rp100.000 per kilogram.
Harga Sebelumnya Sempat Bertahan Rp60 Ribu
Pergerakan harga andaliman sepanjang 2026 cukup dinamis.
Pada awal Juni, harga di Pasar Laguboti turun dari sekitar Rp80.000 menjadi Rp60.000 per kilogram. Saat itu, stok dari petani masih dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, harga di Pasar Porsea sempat berada di sekitar Rp80.000 per kilogram ketika panen raya berlangsung.
Memasuki pertengahan Agustus, arah pergerakannya berubah.
Pedagang mulai melihat berkurangnya pasokan dari tingkat petani. Kondisi tersebut kemudian diikuti kenaikan harga secara bertahap.
Permintaan Pasar Mulai Meningkat
Pedagang di Laguboti, Yolanda Sibuea, menyebut meningkatnya permintaan pasar turut mendorong harga andaliman.
Sementara itu, stok dari petani mulai berkurang karena memasuki awal musim sambang.
Situasi tersebut membuat keseimbangan antara pasokan dan permintaan berubah.
Apabila permintaan terus meningkat sementara produksi petani menurun, harga berpotensi bertahan tinggi.
Pedagang juga menyebut kenaikan andaliman menjelang akhir tahun bukan fenomena baru di Toba.
Harga Andaliman Berpotensi Berfluktuasi
Perjalanan harga sepanjang tahun menunjukkan bahwa andaliman merupakan komoditas dengan fluktuasi cukup tinggi.
Pada Februari 2026, misalnya, harga di Pasar Porsea masih mencapai sekitar Rp120.000 per kilogram untuk kualitas baik. Sementara di Laguboti, harganya sekitar Rp100.000 per kilogram.
Harga kemudian turun ketika pasokan membaik.
Pada Juni, andaliman di Laguboti kembali menyentuh sekitar Rp60.000 per kilogram.
Kini, memasuki akhir Agustus, harga kembali naik hingga Rp100.000 per kilogram.
Perubahan tersebut memperlihatkan kuatnya pengaruh musim dan ketersediaan hasil panen terhadap harga.
Andaliman Punya Karakter Berbeda
Andaliman merupakan rempah yang lekat dengan berbagai masakan khas Batak.
Namun, dalam perdagangan, karakter andaliman segar juga memberikan tantangan tersendiri bagi pedagang.
Daya simpannya relatif terbatas. Karena itu, stok yang terlalu lama berada di pasar berisiko mengalami penurunan aroma, warna, dan kualitas.
Pedagang harus memperhitungkan risiko tersebut ketika menentukan harga jual.
Di sisi lain, harga di tingkat konsumen tetap bergantung pada kondisi pasokan, permintaan, kualitas, serta perkembangan hasil panen petani.
Dengan harga yang kini mencapai sekitar Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram, perkembangan pasokan andaliman dari petani akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pergerakan harga berikutnya di pasar tradisional Kabupaten Toba.