PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta menargetkan pengelolaan transportasi laut menuju Kepulauan Seribu mulai beroperasi pada Juni 2027.
Pengalihan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta mengintegrasikan transportasi darat dan laut. Selain itu, layanan baru diharapkan meningkatkan konektivitas masyarakat Kepulauan Seribu.
Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan proses transisi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu tahun.
Sementara itu, Transjakarta telah melakukan berbagai persiapan sebelum mengambil alih pengelolaan layanan.
Transjakarta Sudah Kunjungi Lima Pulau
Sebagai bagian dari persiapan, Transjakarta telah mengunjungi lima wilayah di Kepulauan Seribu.
Kelima wilayah tersebut adalah Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan.
Dalam kunjungan itu, Transjakarta menghimpun berbagai aspirasi masyarakat.
Warga antara lain menginginkan peningkatan frekuensi layanan, konektivitas antarpulau, kemudahan pembelian tiket, serta standar keselamatan yang lebih baik.
Selain itu, tata kelola usaha kapal tradisional juga menjadi perhatian.
Transjakarta bahkan telah bertemu dengan operator dan pengusaha kapal tradisional. Peluang kerja sama dengan pelaku usaha lokal menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan.

Kapal dan Dermaga Dishub Akan Dioptimalkan
Pada tahap awal, Transjakarta transportasi laut akan memanfaatkan aset yang telah dimiliki Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Aset tersebut mencakup kapal, dermaga, dan fasilitas pelabuhan. Dengan demikian, proses pengembangan layanan tidak seluruhnya dimulai dari awal.
Transjakarta juga berencana membenahi sistem tiket dan teknologi layanan.
Langkah tersebut diharapkan membuat perjalanan menuju Kepulauan Seribu semakin mudah dan terintegrasi.
Namun, berbagai aspek teknis masih harus dimatangkan sebelum layanan resmi beroperasi.
Skema Hub and Spoke Jadi Pilihan
Transjakarta mempertimbangkan sistem hub and spoke untuk pengembangan jangka panjang.
Melalui skema tersebut, kapal berkapasitas besar akan melayani rute utama dari daratan Jakarta menuju pulau tertentu.
Selanjutnya, penumpang dapat menggunakan kapal pengumpan untuk menuju pulau lainnya.
Skema itu diharapkan memperkuat konektivitas antarpulau.
Pada saat yang sama, layanan dapat dikembangkan dengan menyesuaikan kebutuhan dan jumlah penumpang.
Tak Hanya Mengangkut Penumpang
Rencana pengembangan angkutan laut Transjakarta tidak hanya menyasar mobilitas penumpang.
Perusahaan juga melihat potensi sektor logistik dan pariwisata. Bahkan, bisnis kepelabuhanan turut dipertimbangkan sebagai sumber pendapatan di luar tiket.
Langkah tersebut memiliki kaitan erat dengan pengembangan ekonomi Kepulauan Seribu.
Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaluddin menilai kondisi angkutan perairan saat ini belum optimal. Kondisi itu turut memberikan dampak terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, peningkatan konektivitas diharapkan tidak hanya mempermudah perjalanan warga.
Transportasi yang lebih baik juga dapat mendukung pergerakan barang, wisatawan, dan kegiatan usaha masyarakat.
Pariwisata Kepulauan Seribu Bisa Ikut Terdorong
Kepulauan Seribu memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata Jakarta.
Namun, akses transportasi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan sektor tersebut.
Transjakarta berencana mengeksplorasi pariwisata sebagai salah satu bagian dari pengembangan layanan laut. Logistik dan kepelabuhanan juga masuk dalam kajian bisnis perusahaan.
Dengan konektivitas yang lebih baik, perjalanan wisatawan menuju pulau-pulau di kawasan tersebut berpotensi menjadi lebih mudah.
Selain itu, peningkatan frekuensi perjalanan dapat membantu aktivitas pelaku usaha lokal yang bergantung pada sektor wisata.
Transjakarta Siapkan Kajian Bisnis dan Keuangan
Sebelum mengambil alih layanan, Transjakarta masih menyiapkan kajian strategis.
Kajian tersebut mencakup regulasi, model operasional, sumber daya manusia, kepelabuhanan, hingga skema peralihan.
Selain itu, analisis pasar, permintaan, kondisi sosial masyarakat, dan proyeksi keuangan juga masuk dalam pembahasan.
Kajian ini penting karena layanan laut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan transportasi darat.
Transjakarta ingin pengembangan tersebut memiliki model usaha yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Tarif dan Regulasi Masih Dimatangkan
Pengalihan pengelolaan transportasi laut sebelumnya juga telah diumumkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Menurut Pramono, mekanisme pengalihan masih membutuhkan pematangan. Perubahan regulasi dan penentuan tarif menjadi beberapa hal yang harus disiapkan.
Namun, Pramono berharap pengelolaan secara profesional dapat menghasilkan tarif yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Rencana tersebut juga diarahkan untuk memberikan akses transportasi yang lebih adil bagi warga Kepulauan Seribu.
Jika proses transisi berjalan sesuai rencana, Transjakarta ditargetkan mulai mengelola angkutan laut pada Juni 2027. Pengembangan layanan nantinya akan menghubungkan mobilitas penumpang dengan potensi logistik, pariwisata, dan kegiatan ekonomi Kepulauan Seribu.