JAKARTA – Harga emas berpotensi cetak rekor baru pada 2026. Sejumlah proyeksi masih menunjukkan peluang kenaikan harga logam mulia hingga mendekati US$6.000 per ons troi.
J.P. Morgan Global Research memperkirakan harga emas dapat mencapai rata-rata sekitar US$6.000 per ons pada kuartal IV 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan prospek emas masih kuat meski pergerakan harga tetap berfluktuasi.
Namun, angka US$6.000 bukan harga emas saat ini. Reuters mencatat harga emas spot berada sekitar US$4.379,95 per ons pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026.
Dengan demikian, emas masih membutuhkan kenaikan yang cukup besar untuk mencapai level US$6.000.
Harga Emas Kembali Menguat
Pergerakan emas kembali menarik perhatian investor pada Agustus 2026.
Harga emas mengalami kenaikan sekitar 10 persen pada bulan ini dan bergerak di sekitar US$4.400 per ons. Selain itu, pembelian oleh bank sentral kembali menjadi salah satu faktor pendukung pasar.
Pada Jumat, harga emas spot naik sekitar 0,7 persen menjadi US$4.379,95 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup pada US$4.437,30 per ons.
Pelemahan dolar AS ikut membantu kenaikan tersebut. Sebab, emas menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Bisakah Harga Emas Tembus US$6.000?
Peluang tersebut tetap terbuka.
J.P. Morgan memperkirakan emas dapat mencapai rata-rata US$6.000 per ons pada kuartal terakhir 2026. Bahkan, proyeksi mereka menunjukkan harga dapat bergerak menuju US$6.300 pada akhir 2027.
Meski demikian, pasar masih membutuhkan sejumlah faktor pendukung agar target tersebut tercapai.
Pada pertengahan Agustus, emas masih berada sekitar US$4.400. Oleh karena itu, perjalanan menuju US$6.000 membutuhkan kenaikan lebih dari 30 persen dari level tersebut.
Kenaikan sebesar itu bukan hal yang pasti terjadi.
Bank Sentral Terus Membeli Emas
Salah satu faktor utama yang mendukung harga emas 2026 adalah permintaan dari bank sentral.
Reuters melaporkan pembelian bank sentral mencapai 289 ton pada kuartal II 2026. Nilainya diperkirakan sekitar US$45 miliar dan menjadi rekor pembelian kuartalan.
Permintaan tersebut menunjukkan emas masih mempunyai posisi penting sebagai aset cadangan.
Selain itu, survei World Gold Council yang dikutip Reuters menunjukkan 45 persen bank sentral berencana menambah kepemilikan emas dalam 12 bulan mendatang.
Tren tersebut dapat memberikan dukungan terhadap harga jika pembelian terus berlanjut.
Ketegangan Geopolitik Ikut Mendukung
Emas sering menjadi pilihan investor ketika ketidakpastian meningkat.
Situasi geopolitik yang sedang terjadi ikut meningkatkan perhatian terhadap aset aman. Sementara itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar.
Gangguan di Selat Hormuz bahkan telah memengaruhi pasar energi.
Jika ketegangan semakin besar, investor dapat meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap lebih defensif.
Namun, kondisi sebaliknya juga dapat terjadi.
Jika ketegangan geopolitik mereda, permintaan terhadap emas sebagai aset aman bisa berkurang.
Kebijakan The Fed Jadi Faktor Penting
Arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga sangat menentukan.
Emas tidak memberikan bunga. Oleh sebab itu, suku bunga yang lebih rendah biasanya membuat logam mulia lebih menarik dibandingkan sejumlah aset berbunga.
Data ekonomi AS terbaru telah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada September. Kondisi tersebut ikut membantu harga emas menguat.
Di sisi lain, perubahan kebijakan Federal Reserve dapat mengubah situasi dengan cepat.
Jika suku bunga kembali naik atau bertahan tinggi lebih lama, harga emas dapat menghadapi tekanan.
Dolar AS Juga Menentukan Arah Emas
Hubungan emas dengan dolar menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.
Harga emas internasional menggunakan dolar AS. Karena itu, pelemahan dolar sering memberikan dukungan terhadap emas.
Pada perdagangan Jumat, indeks dolar turun sekitar 0,3 persen. Akibatnya, emas menjadi lebih menarik bagi pembeli dari luar Amerika Serikat.
Namun, penguatan dolar dapat menghasilkan efek sebaliknya.
Oleh karena itu, investor tidak cukup hanya memperhatikan harga emas. Pergerakan mata uang AS juga penting.
Investor Mulai Kembali ke Emas
Minat investor terhadap produk berbasis emas juga menunjukkan pemulihan.
Pada Juli 2026, ETF berbasis emas secara global mencatat arus masuk sekitar US$3 miliar. Kepemilikan emas melalui instrumen tersebut bertambah sekitar 23 ton menjadi 4.068 ton.
Selain itu, investor Eropa menjadi pendorong utama dengan arus masuk sekitar US$2 miliar.
Perkembangan tersebut penting karena permintaan investor dapat memberikan dorongan tambahan terhadap harga.
Jika minat dari investor Amerika Utara ikut meningkat, momentum kenaikan berpotensi menjadi lebih kuat.
Target US$6.000 Bukan Jaminan
Meski prospeknya positif, investor perlu memahami bahwa US$6.000 per ons merupakan proyeksi.
Harga emas dapat bergerak naik maupun turun dalam waktu singkat.
Sebagai contoh, emas pernah mencapai level yang jauh lebih tinggi pada Januari 2026 sebelum mengalami koreksi. Harga kemudian kembali bergerak di sekitar US$4.400 pada Agustus.
Karena itu, prediksi dari lembaga keuangan tidak dapat dianggap sebagai jaminan harga di masa depan.
Perubahan suku bunga, dolar AS, geopolitik, inflasi, dan permintaan investor dapat mengubah arah pasar.
Peluang Rekor Baru Masih Terbuka
Prospek harga emas menuju US$6.000 per ons masih menjadi perhatian pasar hingga akhir 2026.
Pembelian bank sentral yang tinggi memberikan dukungan. Selain itu, pelemahan dolar dan ketidakpastian geopolitik turut meningkatkan daya tarik emas.
Namun, perjalanan menuju US$6.000 masih cukup panjang.
Harga emas saat ini berada jauh di bawah target tersebut. Oleh sebab itu, investor perlu melihat angka US$6.000 sebagai skenario bullish, bukan harga yang pasti tercapai.
Jika faktor pendukung terus bertahan, peluang mencetak rekor baru tetap terbuka. Sebaliknya, perubahan kondisi ekonomi global dapat membuat harga bergerak berbeda dari proyeksi.