Orang tua salah satu pelaku penembakan di sebuah masjid di San Diego kini ikut menjadi sorotan setelah muncul informasi baru dalam gugatan yang diajukan ke pengadilan. Gugatan tersebut menyebut FBI telah menghubungi orang tua Caleb Vazquez beberapa hari sebelum serangan dan memperingatkan mereka mengenai aktivitas putra mereka di internet. Peristiwa itu kembali memunculkan pertanyaan tentang apakah tanda-tanda bahaya sebelum serangan sudah cukup ditindaklanjuti.
FBI Disebut Menghubungi Orang Tua
Menurut gugatan yang diajukan ibu Vazquez pada 31 Agustus 2026, FBI menghubungi dirinya pada malam 14 Mei. Peringatan tersebut disebut berkaitan dengan komentar mengkhawatirkan yang dibuat putranya mengenai penembakan di sekolah melalui dark web.
Sang ibu kemudian dilaporkan menghubungi fasilitas perawatan tempat Vazquez tinggal. Ia juga kembali menyampaikan informasi tersebut kepada terapis pada 15 Mei dan kepada direktur program pada malam yang sama.
Vazquez Sedang Menjalani Perawatan
Vazquez, yang saat itu berusia 18 tahun, tinggal di Park Mental Health Treatment di San Diego. Dalam gugatan tersebut disebutkan bahwa ia sedang mendapatkan perawatan untuk sejumlah masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan episode psikotik.
Keluarganya kini menuduh fasilitas tersebut gagal mengambil tindakan yang memadai setelah menerima peringatan. Park Mental Health membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa tanggung jawab atas tindakan penembakan berada pada Vazquez dan rekan pelakunya.
Pelaku Dilaporkan Pergi Sebelum Serangan
Salah satu persoalan utama dalam gugatan berkaitan dengan keberadaan Vazquez pada malam sebelum serangan. Pihak keluarga diberi tahu pada pagi 18 Mei bahwa Vazquez telah menghilang dari fasilitas tersebut.
Rekaman kamera pengawas kemudian disebut menunjukkan Vazquez meninggalkan lokasi sekitar pukul 20.00 pada malam sebelumnya. Gugatan belum menjelaskan secara pasti apakah ia diperbolehkan meninggalkan fasilitas atau keluar tanpa izin.
Serangan Menewaskan Tiga Orang
Pada 18 Mei 2026, Vazquez dan seorang remaja lain, Cain Clark, melakukan penembakan di sebuah masjid di San Diego. Serangan tersebut menewaskan tiga orang sebelum kedua pelaku mengakhiri hidup mereka.
Penyelidikan sebelumnya menyebut kedua remaja tersebut bertemu secara daring dan mengalami proses radikalisasi melalui internet. Namun, pihak berwenang belum memberikan seluruh rincian mengenai hubungan mereka maupun asal senjata yang digunakan dalam serangan.
Tanda Bahaya Disebut Sudah Ada
Kasus tersebut ternyata bukan pertama kalinya perilaku Vazquez menarik perhatian. Pada Januari 2026, ia disebut sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar tiga hari setelah mengatakan kepada seorang teman sekolah bahwa dirinya ingin melakukan penembakan di sekolah.
Sekitar setahun sebelumnya, polisi juga pernah menyita 26 senjata api dari ayah Vazquez setelah muncul laporan mengenai perilaku yang mengkhawatirkan dan ketertarikannya terhadap ideologi Nazi. Riwayat tersebut kini menjadi bagian dari pertanyaan mengenai bagaimana tanda-tanda bahaya sebelum serangan ditangani.
Gugatan Membuka Pertanyaan Baru
Gugatan keluarga Vazquez tidak hanya menyoroti peran orang tua, tetapi juga mempertanyakan tanggung jawab fasilitas kesehatan dalam merespons peringatan yang diterima. Park Mental Health telah menolak tuduhan kelalaian dan menyatakan bahwa pihaknya tidak bertanggung jawab atas tindakan pelaku.
FBI sendiri belum memberikan komentar mengenai dugaan komunikasi dengan keluarga tersebut dengan alasan kebijakan lembaga. Karena perkara masih berjalan, tuduhan dalam gugatan belum menjadi putusan pengadilan.